13 Juli 2009

MENJAHIT BENDERA PUSAKA RI - PESAN BUAT SBY-BUDIONO

Oleh Soepomo Prodjoharjono

Pemilu legislatif maupun pemilu presiden sebagai momentum pesta demokrasi rakyat Indonesia sudah dilaksanakan dengan aman dan damai. Meski belum resmi, pasangan SBY-Budiono pantas mendapat acungan jempol karena menjadi double winners. Tidak saja beliau keluar sebagai pemenang pilpres 8 Juli 2009 yang lalu dengan mengalahkan pesaingnya Mega-Pro dan YK-Wiranto dalam satu putaran saja, tetapi juga di legislatif dengan membawa Partai Demokrat bentukan SBY sebagai partai paling unggul di DPR dan di hampir semua DPRD Provinsi, Kabupaten, dan Kota.

Kita semua sadar bahwa bangsa kita masih perlu prihatin panjang. Sederet predikat negatif bagi negara kita cukup panjang, antara lain negara terkorup di dunia; masih banyaknya masyarakat miskin; lebarnya celah (gap) antara si miskin dan si kaya; rendahnya PDB kita dibanding negeri jiran; tingginya tingkat penebangan liar terhadap hutan tropis; dan masih banyak lagi predikat negatif yang kita sandang sampai saat ini. Herannya, kondisi ini dari tahun ke tahun justru malah semakin parah. Padahal umur negeri kita sudah 64 tahun besok Agustus nanti. Apa yang salah di negeriku tercinta ini?

Kemenangan SBY-Budiono harus kita sambut dengan gembira karena adanya komitmen beliau berdua untuk menghapus predikat negatif diatas, yang intinya ingin mewujudkan kepemerintahan yang lebih baik lagi guna mempercepat terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur. Bagaimanapun, negara dan bangsa Republik Indonesia memang perlu tangan piawai yang dapat menyelesaikan masalah dengan tanpa timbul masalah baru. Ditangan SBY-Budiono harapan masyarakat tersebut bertumpu.

Sebagai tradisi kenegaraan, setiap tanggal 17 Agustus bendera pusaka yang asli akan dikeluarkan oleh Presiden dari kotaknya. Dan lihatlah bendera pusaka itu, kondisinya amat sangat memprihatinkan, sobek di sana sini. Mudah-mudahan kondisi bendera tersebut menjadi renungan Presiden SBY pada saat beliau mengeluarkan dari kotaknya. Bendera itu perlu dijahit sehingga menjadi rapi kembali. Tentu saja ini hanya kiasan semata. Bendera pusaka tersebut hanyalah perlambang kondisi negara kita yang saat ini compang camping di sana-sini yang perlu dibenahi dengan arif.

Menjahit bendera pusaka memerlukan piranti jahit yang terdiri dari perpaduan jarum dan benang. Menjahit hanya dengan jarum tanpa benang adalah suatu keniscayaan karena meski bisa menembus kain tetapi tidak akan dapat menambal kain tersebut. Sebaliknya, menjahit hanya dengan benang saja tanpa jarum adalah mustahil, karena benang tidak mungkin dapat menembus kain tanpa jarum. Perpaduan keduanya adalah suatu keharusan. SBY-Budiono telah dipilih oleh mayoritas rakyat sebagai jarum untuk menjahit bendera pusaka. Sebagai jarum, diharapkan SBY-Budiono tidak akan sekali-kali melepaskan benang yang telah mendukungnya dengan susah payah, baik yang berasal dari mitra koalisi partai maupun dari masyarakat banyak. Benang juga harus diartikan sebagai lembaga negara lain, yaitu MPR, DPR, DPD, MA, BPK, kementerian/lembaga, dan berbagai Komisi seperi KPK, KY, dan sebagainya. Benang-benang tersebut harus selalu tersambung agar hasil jahitan SBY-Budiono benar-benar rapi.

Agar jarum dapat berfungsi dengan baik, beliau berdua harus mempunyai sifat panutan, pengayom, dan sekaligus motivator bangsa. Untuk hal ini, sebagaimana Presiden RI yang pertama, Ir Soekarno, SBY-Budiono pun harus diberi “tongkat” sakti yang akan selalu dibawa olehnya. Tongkat yang dimaksud disini adalah singkatan dari T=teguh, O=obyektif, NG=ngayomi, K=ksatria, A=amanah, dan T=tegas.

Dalam memimpin, SBY-Budiono harus teguh dalam bersikap. Artinya, apa yang selalu dipikirkan SBY-Budiono semata-mata hanyalah bagaimana cara memakmurkan rakyat Indonesia. Teguh juga bermakna tidak mudah dipengaruhi oleh kekuatan manapun, baik dari negara asing, institusi donor, maupun fihak lain yang hanya menginginkan keuntungan semata (rent seekers). Hal ini dapat dicapai kalau SBY-Budiono selalu meminta petunjuk dan ridho Allah Yang Maha Benar.

Obyektif bermakna bahwa dalam setiap mengambil keputusan SBY-Budiono harus hati-hati dengan mempertimbangkan segala aspek, tanpa didasari sikap yang memihak. Obyektif juga diartikan bahwa segala keputusan SBY-Budiono harus mengutamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan kelompok, partai, keluarga, atau golongan tertentu, apalagi fihak asing.

SBY-Budiono yang selama ini selalu bersikap santun harus secara lahir batin dapat mengayomi masyarakat sehingga masyarakat semakin hormat kepadanya. Seorang pemimpin yang pengayom tidak seharusnya mudah emosi dan cepat marah. Semua masukan atau kritikan terhadapnya harus diterima dengan lapang dada dengan berprinsip “ambil manfaatnya, buang jauh-jauh yang mudharat”.

Selanjutnya SBY-Budiono (dan menteri-menterinya) harus bersikap ksatria, yaitu “berani karena benar, takut karena salah”. Bila mencapai kesuksesan tidak perlu bertepuk dada, namun kalau melakukan suatu kesalahan seharusnya tidak segan-segan mengakui kesalahan dan segera memperbaikinya. Janganlah hanya karena membela korps maka kesalahan itu harus ditutup-tutupi. Ksatria juga bermakna legowo. Artinya bahwa kekuasaan itu pasti ada akhirnya. Janganlah nantinya SBY-Budiono turun karena dipaksa oleh rakyat. SBY-Budiono harus yakin bahwa nantinya akan ada penerus pemimpin bangsa yang bukan dari keluarga atau kelompoknya yang sanggup menerima estafet kepemimpinan bangsa dan negara. Ingat, kekuasaan selalu cenderung korup (power tends to corrupt).

Pemimpin juga harus bersikap amanah, artinya jabatan itu berupa kepercayaan dari yang memilih. Janganlah disia-siakan kepercayaan itu karena tanggungjawabnya akan dibawa sampai di akhirat. SBY-Budiono harus memenuhi janji-janji kepada rakyat sewaktu kampanye dulu. Dan sebagai wujud akuntabilitas dan transparansi, SBY-Budiono harus melaporkan setiap tahapan yang telah dicapai dalam pemenuhan janji tersebut.

Terakhir, SBY-Budiono harus bersikap tegas, baik terhadap anak buahnya, keluarganya, partnernya, maupun terhadap lawan politiknya. Tegas harus tidak diartikan kaku, namun lebih pada ketegasan sikap. SBY-Budiono juga harus tegas terhadap pemisahan beliau sebagai pemimpin bangsa dan negara dan beliau sebagai manusia biasa.

Dengan berpegangan pada tongkat sakti tersebut diharapkan SBY-Budiono dapat menjahit bendera pusaka kita, dan selalu diridhoi Allah dalam memimpin negara ini pada periode 2009-2014. Selamat Memimpin Negeri ini. Di pundakmu masyarakat mengharap perbaikan negeri ini dalam waktu yang tidak terlalu lama. Jangan sia-siakan amanah rakyatmu.

Jakarta, 13 Juli 2009

Alamat:
DR Soepomo Prodjoharjono, MSc, Akt.
Perumahan Bintara II blok B-31
Kota Bekasi

Fax/Tlp 021 864 3967
HP 081 2992 2193

0 comments:

Poskan Komentar

please comments on the article above as long as you like