16 November 2008

John McCain Ikut Audisi Idola Cilik 2 di RCTI

diambil dari DetikForum

Tadinya saya hanya sekedar menemani anak-anak menyaksikan proses audisi idola cilik 2 di RCTI sabtu siang tadi. Namun ada yang menarik dari acara tersebut. Ada seorang peserta audisi bernama Daffa, umurnya mungkin masih berkisar 5-6 tahun. Bicaranya masih cadel dan tidak jelas di mengerti. Namun keberaniannya luar biasa. Ia tidak canggung beraksi di depan juri audisi mama ira dan kak winda. Bahkan ngobrol dengan para juri pun sudah seperti teman saja. Iapun tidak canggung ketika ia masuk lagi ke arena audisi tanpa di undang hanya untuk minta foto bareng dengan mama ira. Lucu sekali.

Tapi bukan itu yang menarik buat saya. Ketika hasil audisi di umumkan, bocah ini ternyata tidak lolos audisi. Bukan masalah sih karena ia lebih cocok jadi aktor cilik ketimbang penyanyi. Namun setelah mengetahui ia tidak lolos audisi, bocah tersebut kemudian memberi ucapan selamat kepada peserta lain yang lolos dengan menepuk pundak mereka. Ini yang menarik. Seorang bocah cilik yang biasa kita (orang dewasa) anggap masih cengeng, gampang ngambek kalau hasilnya tidak sesuai keinginannya, ternyata punya jiwa besar untuk mengakui kekalahannya dan memberi selamat kepada pemenang. Ini mengingatkan saya pada Capres John McCain yang punya jiwa besar untuk mengakui kekalahannya dari capres Obama dan memberi selamat kepada obama.

Bandingkan dengan politisi kita yang bertarung dari tingkat pilpres hingga pilkada bahkan sampai ke pilkades. Para kadidatnya pastinya sudah gede-gede khan, berpendidikan tinggi, mapan ekonomi dan panutan orang banyak. Namun apakah mereka memiliki jiwa besar? Banyak kita temukan berita berita pilkada ricuh karena yang kalah tidak terima kekalahannya, atau kalaupun tidak ricuh para kandidat yang kalah biasanya mendongkol dan ogah kasih selamat apalagi mau mendukung pemerintahan si pemenang.

Kalau bocah bocah cilik saat ini sudah bisa belajar berjiwa besar, berarti para politisi kalah gesit dan kalah pintar dibanding bocah bocah tersebut. Saya yakin dengan seyakin yakinnya kalau ada politisi yang membaca tulisan ini, mereka juga pasti tidak akan mau mengakui kekalahannya terhadap bocah bocah tersebut. Pasti deeh...

0 comments:

Poskan Komentar

please comments on the article above as long as you like